Berbahasa yang baik dan benar sudah menjadi tradisi generasi Salaf. Oleh karena itu, kekeliruan dalam pengucapan ataupun ungkapan yang tidak seirama dengan kaidah bakunya dianggap sebagai cacat, yang mengurangi martabat di mata orang banyak. Apalagi bila hal itu terjadi pada orang yang terpandang. Ibnul Anbari menyatakan: "Bagaimana mungkin perkataan yang keliru dianggap baik…? Bangsa Arab sangat menyukai orang yang berbahasa baik dan benar, memandang orang-orang yang keliru dengan sebelah mata dan menyingkirkan mereka”.

Umar bin Khaththab pernah mengomentari cara memanah beberapa orang dengan berucap:
"Alangkah buruk bidikan panah kalian". Mereka menjawab:
” قَوْمٌ مُتَعَلِّمِيْنَ نَحْنُ "
(kami adalah para pemula),
maka Umar berkata, ”Kesalahan berbahasa kalian lebih fatal menurutku daripada buruknya bidikan kalian…
Seharusnya :
نَحْنُ قَوْمٌ مُتَعَلِّمُوْنَ. :)
(Al Malahin, karya Ibnu Duraid Al Azdi, hlm. 72.)
Sumber :
almanhaj.or.id